Ajaran Syekh Siti Jenar Tentang Hakikat

Syekh Siti Jenar menyatakan bahwa pelaksanaan kehendak allah dengan rasa kepasrahan merupakan perwujudan “kehendak pribadi”. Ia menjelma menjadi Kehendak Pribadi”, dimana kehendak insani telah dikendalikan oleh kehendak Yang Illahi. Dan itulah yang disebut sebagai adi-manusia. Dalam pupuh III (Dandhanggula): 31-32 Serat Siti Jenar :

Kodrat merupakan kuasa pribadi
Tiada yang mirip atau menyamai
Kekuasaannya tanpa peranti, dari tanrupa menjadi warna-warni
Lahir batin satu sebab sawiji (manunggal)
Iradat artinya karsa tanpa runding
Ilmu berarti mengetahui kenyataan sebenarnya
Yang lepas jauh dari pancaindera
Bagaikan anak sumpitan meluncur lepas tertiup

Adanya kehidupan itu karena pribadi
Demikian pula keinginan hidup itupun ditetapkan oleh diri sendiri
Oleh kehendak nyata
Hidup tanpa sukma yang melestarikan kehidupan
Tiada merasakan sakit ataupun lelah
Suka duka pun musnah karena tiada diinginkan oleh hidup
Berdiri senriri menurut karsanya
Dengan demikian hidupnya kehidupan itu
Sesuai kehendaknya
Syekh Siti Jenar terang pandangannya
Melebihi manusia sesama (adi-manusia)


Disinilah terletak semua daya kekuatan rohani, dan spiritualitas yang mengantarkannya kepada ma’rifatullah, karena daya dari sang “Pangeran”. Dengan hati tersebut, jasad melangkah penuh daya kekuatan hidup dan kekuatan yang paling prima sesuai dengan kehendak Allah. Sehingga dalam diri seorang sufi harus terpadu antara kekuatan spiritual dalam bentuk hati yang tenteram, bahagia dan tenang. Merefleksikan sifat asma’ Allah dengan semangat menegakkan kebenaran Allah di muka bumi sebagai khalifah-Nya.


Syekh Siti Jenar sebagai tokoh utama sufisme Islam-Jawa, menentang upaya pembatasan pengajaran tasawuf hanya untuk kelompok strata masyarakat tertentu. Ia mengajarkan sufisme kepada seluruh lapisan masyarakat yang akhirnya melahirkan tuduhan bahwa ia melakukan pelanggaran adab rohani dalam bentuk miyak warana (membuka tabir rahasia Tuhan). Namun Syekh Siti Jenar tetap mengajarkan hakikat kebenaran walaupun ancaman kematian mengintainya.


Oleh karena itu, semakin jernih keadaan batin seseorang, semakin detail dan dalam pula pemahamannya akan Allah dan Rasul-Nya. Sehingga jelas, tasawuf merupakan ucapan dan kerja merasakan aqidah, bukan menetapkan suatu keyakinan atau sejenis agama baru yang bertentangan dengan nash-nash atau pemahaman keagamaan yang benar. Dan juga tasawuf adalah ilmu yang dibutuhkan oleh setiap manusia dan meliputi seluruh manusia. Hanya saja, memang sebagian memiliki pemahaman mendetail terhadap beberapa nash, dan sebagian yang lain dapat menangkap rincian sejumlah makna nash yang tidak dapat dipahami orang lain. sedangkan Syekh Siti Jenar merupakan tokoh yang sanggup membahasakan nash kitab suci dan sunnah dalam bentuk “bahasa jawa” yang menjadikan ajarannya lebih mudah diserap dan diterima oleh masyarakat yang umumnya awam.


Syekh Siti Jenar menyatakan, “Adanya Allah karena dzikir. Dzikir membuat lenyap Dzat, Sifat, Asma’, dan Af al Yang Maha Tahu. Digulung menjadi ‘antaya” dan rasa dalam diri. Dia itu saya! Timbul pikiran menjadi Dzat yang mulia” (Pupuh II: 3)


“Budi, pikiran, angan-angan dan kesadaran, berasal dari pancaindera. Tidak dapat dipakai sebagai pegangan hidup. Akal dapat menjadi gila, sedih, bingung, lupa tidur dan seringkl=ali tidak jujur. Akal itu pula yang siang malam mengajak dengki, bahkan merusak kebahagiaan orang lain. dengki dapat pula menuju perbuatan jahat, menimbulkan kesombongan. Untuk akhirnya jatuh dalam lembah kenistaan, sehingga menodai nama dan citranya. Kalau sudah sampai demikian jauhnya, baru orang menyesalkan perbuatannya. “ (Pupuh III:43-44)


Menurut Syekh Siti Jenar, hati dalam tradisi bangsa Arab hampir sama dengan budi, pikiran, angan-angan, serta kesadaran yang satu wujud dengan akal (ngakal). Tentu saja akal disini berbeda dengan “akal pikiran” menurut bahasa Arab. Sebelum Immanuel Kant berpendapat bahwa argumen berdasar akal bisa salah jika tidak dipimpin Tuhan, dua setengah abad sebelumnya Syekh Siti Jenar sudah menyatakan bahwa budi dan akal merupakan satu wujud yang harus dipimpin oleh Wajibul Maulana. Sayangnya memang Syekh Siti jenar pada masanya hadir di tempat yang belum kondusif untuk mengembangkan pikirannya.

1 komentar:

Khiran Hana mengatakan...

adakah pupuh syekh siti jenar yang berbahasa jawa?
Karena secara pribadi sebagai orang jawa saya masih merasa rancu dgn penjelasan dan translate yg di lakukan orang pada buku mereka dalam bahasa indonesia.