Ma’rifat dalam Term al-Qur’an

Ma’rifat dalam term-term al-Qur’an memiliki banyak arti: mengetahui, mengenal, sangat akrab, hubungan yang patut, berhubungan baik dan pengenalan berdasarkan pengetahuan mendalam. Arti ma’rifat ini berasal dari kata yang berakar pada kata ‘arafa, dalam keseluruhan al-Qur’an disebutkan sebanyak 71 kali. Maka jika semua pengertian itu dihimpun dalam satu pengertian, ma’rifat dalam substansi al Qur’an memiliki maksud sebagai pengenalan yang baik serta mendalam berdasarkan pengetahuan yang menyeluruh dan rinci, sebagai buah hasil dari hubungan yang sangat dekat dan baik. Pengertian inilah yang berlaku pada konsep ma’rifat terhadap Allah (ma’rifatullah).

Untuk sampai kepada kesempurnaan ma’rifatullah, oleh karena turunnya al-Qur’an melalui kalbu Rasulullah, maka al-Qur’an juga mengisyaratkan bahwa seseorang juga harus memiliki ma’rifat terhadap rasulullah atau ma’rifatur-rasul.


“orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman (kepada Allah).” (al-An’am/6: 20).


Jika pengenalan akan Allah sebagaimana pengenalan atas dirinya sendiri (man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu), maka dalam ayat tersebut ditegaskan bahwa ma’rifatur-rasul identik dengan pengenalan terhadap anak-anak kita sendiri. Jadi betapa dekatnya kita dengan Rasulullah kalau memang kita dapat ber-ma’rifat kepadanya secara benar.


Sebagai bentuk aplikasi dari dua ma’rifat tersebut serta sebagai salah satu cirri telah sampainya kemanunggalan, maka al-Qur’an atau kitab suci dalam diri seseorang menjadi sesuatu yang bersifat aktif. Bukan sesuatu yang pasif dan hanya digunakan sebagai alat justifikasi belaka.


Sebagaimana ditegaskan Syekh Siti Jenar bahwa “ di dalammu ada al-Qur’an” (Serat Siti JEnar, Pupuh 6: 18), maka al-Qur’an sebagai proses “kalam” menyatu dengan kedirian setiap orang. Ia aktif sebagai suluh rohani. Menurut Syekh Siti Jenar, kebanyakan orang tidak berhasil mengenali kitab sucinya, karena sudah hanyut dan tenggelam dalam keduniaan yang dianggap sebagai kehidupan nyata. Hingga akhirnya ia jauh dari suluh ma’rifat.


“Meskipun kalian mengetahui dan secara teoritis tahu caranya melakukan, tentu kalian akan salah mengamalkannya. Sebab kalian masih hanyut tenggelam dalam kesesatan. Melihat barang berupa permata dan emas yang berkilauan, harta kekayaan, serta makanan yang beraneka warna, kalian menjadi terpikat. Jelas bahwa perilaku kalian itu salah. Sudah banyak ilmu yang kalian tuntut, bahkan kadang-kadang kalian bermimpi dalam alam ilmu, tetapi dasarnya kalian santri gundul yang memburu hasil akal yang busuk, maka kalian senang kalau ada yang sedekah.”


Demikian pernyataan Syekh Siti Jenar tentang bagaimana umumnya orang terhalang mengapresiasi kitab suci sebagai sesuatu yang hidup dan aktif (Pupuh 6:26)


Ciri pokok dari orang yang berma’rifat dalam kehidupan didunianya sebagaimana yang dikemukakan Syekh Siti Jenar diatas, bahwa mereka tidak terjebak oleh gemerlapnya dunia, serta mensikapi dunia secara wara’, zuhud’ dan selalu mengembalikan dirinya kepada Allah. Adapun wataknya dalam menjalankan syari’at keagamaan diisyaratkan dalam QS al-A’raf/7: 157.


Sehingga dengan segala pengetahuannya atas Kebenaran (ma’rifatullah) dan ditundukkan mutlaknya kepada Allah, maka mereka selalu tenggelam dalam kebesaran Allah. Mereka larut dalam keagungan-Nya. Sebaliknya, dalam kehidupan dunia ini Allah-pun melimpahkan sebagian kebesaran dan keagungan-Nya kepada hamba-Nya tersebut, sehingga dari diri orang yang ber-ma’rifat dapat mucul karamah-karamah dari Allah. Mereka itulah yang disebut sebagai wali Allah atau auliya’ Allah.

Tidak ada komentar: