Syekh Siti Jenar Tentang Syari’at dan Tarekat


Untuk mengetahui keberimbangan dan aplikasi syari’at dan tarekat ( yang meliputi juga ma’rifat dan hakekat) dari Syekh Siti Jenar, serta Islam-Jawa umumnya, dapat diperhatikan dalam Serat Nitisruti, Pupuh Dhandanggula, 11-14::


Surasanya kang pinurweng ruwi

Kang minangka lengahuing pandhita
Yen sampun leres rarase
Nulusa raosipun
Jroning nala tanpa ling-aling
Dening sampin waspada
Dununging panebut
Atanapi kang sinembah
Dadi gambuh ngambuh ing kaanan jati
Jati mulyeng kasidan
Rarasing kang mangkana sayekti
Tan kabuki neng manahing janma
Kang tanpa pangawikane
Muwah kang mudha punggung
Bodho bundhu datanpa budi
Marwanira kumedah
Tyas kalaten atul
Met tuladha puruhita
Maring para pandhita putusing jati
Pun wus sirna reregeding angga
Ruwat sagung mamalane
Kadi sarira ayu
Kang mangkana yeka manawi
Trus prapteng jero jaba
Babarane jumbuh
Ning wening tan kawoworan
Ing satemah pan waras keni den wastani
Syuh sirna manungsanya
Tatelane kang mangkono yekti
Wus tan ana Gusti lan kawula
Saking wus sirna rasane
Dene ta kang tan weruh
Ing pangawruh kang wus jinarwi
Ta kena canarita
Caraning tumuwuh
Wis wus kebak mesi wisa
Mung duraka kewala kang den raketi
Beda kang wus swantosa
yang artinya:
Maksud ajaran yang permulaan
Mengenai kedudukan pendeta
Bilamana sudah benar sesuai (penempatannya)
Jujurnya perasaan
Di dalam hati tiada akhir
Karena sudah waspada
Kedudukannya yang menyembah
Dan yang disembah
Menjadi biasa dalam keberadaan sejati
Menjadi mulia yang sebenarnya
Selarasnya yang demikian itu sebenarnya
Tidak terbuka dalam hati manusia
Yang tanpa pengetahuan
Dan yang masih bodoh
Sungguh bodoh pemikirannya
Oleh karena itu haruslah
Hati terus berusaha
Mengambil teladan guru
Kepada para pendeta yang mahir
Sebagai kemuliaan sejati
Maksud rasa hati yang sudah sampai
Pada kebenaran
Kotoran diri yang sudah sirna
Mencegah segala yang tidak baik
Bagaikan tubuh yang cantik
Yang demikian itu bilamana
Sudah sampai luar dalam
Akhirnya selaras
Bersih tak bercampur
Dalam suasana yang indah yang disebut
Benar-benar sifat kemanusiaannya
Jelas sekali sebenarnya yang demikian itu
Sudah tidak ada gusti dan hamba
Karena sudah sirna rasanya
Sedangkan bagi yangtidak tahu
Pengetahuan yang diuraikan
Tak dapat diceritakan
Bagaimana cara hidupnya
Sudah penuh bisa
Hanya kedurhakaan yang dilakukan
Lain halnya bagi yang sudah kokoh budinya

Pupuh tersebut tampak sangat mewakili ajaran mistik dan makrifat Islam-Jawa, terutama yang disebarkan oleh Syekh Siti Jenar, dan sebagian oleh Sunan Kalijaga. Mistik makrifar yang secara mudahnya berarti “inisiasi” adalah praktik kontak spiritual langsung dengan Tuhan melalui pengalaman psikologis. Oleh karenanya rahasia dan rasanya hanya dapat dirasakan oleh pelakunya saja, dan masing-masing pelaku(salik) akan selalu memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Namun secara jelas dan tegas dapat dinyatakan bahwa tanpa laku, tanpa penghayatan langsung dan nyata, maka keadaan yang sesungguhnya dari pengalaman keagamaan, rasa agama (al halawat al iman), atau apapun namanya dari buah lelaku tersebut niscaya tidak dapat dirasakan dan tidak bisa diperoleh.


Ma’rifat sendiri walaupun secara umum diartikan sebagai pengetahuan spiritual, tidaklah hanya sebatas itu. Al-‘ilm al-ruhi dan al-’ilm al bathini juga berarti hampir sama, pengetahuan spiritual. Dalam makrifat terdapat kenyataan yang tertangkap dalam diri kita. Dengan bermakrifat itulah komunikasi dan kontak langsung menjadi mungkin terjadi. Demikian pula, pengetahuan keagamaan sedalam apapun tidaklah bisa disebut sebagai ma’rifat. Mendalamnya ilmu-ilmu syariat juga belum tentu sanggup mengantarkan pemiliknya sampai pada kema’rifatan. Mungkin mereka tahu dengan Tuhan, ia tahu sifat-sifat-Nya melalui buku dan guru. Karena mereka hanya tahu dan tidak pernah kontak, maka hasilnya juga menjadi kurang benar. Maka dalam makrifat dibutuhkan lelaku. Dalam bahasa sufi, makrifat merupakan buah dari perjalanan seorang kawula (hamba) kepada Tuhannya (suluk). Dari proses perjalanan itulah maka akan tercapai manunggaling kawula Gusti, wahdat al-wujud, dan diketahui secara jelas apa itu sangkan paraning dumadi (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un)


Dalam hal ini syariat bukanlah sekedar aturan-aturan formal keagamaan, yakni yang sering hanya dibatasi sebagai fikih. Sekarang kata-kata “syariat Islam” telah direduksi oleh para agamawan hanya sebatas fikih, aturan formal keagamaan yang dibakukan dalam berbagai karya hukum keagamaan oleh manusia. Fikih sebenarnya hanyalah produk perjalanan ulama dalam sejarah Islam, bukan syariat itu sendiri. Sedangkan syariat dalam tataran makrifat adalah “jalan” yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan.


Adapun cara untuk menempuh laku syariat itu disebut sebagai tarekat, yang tentu juga terkait dengan masing-masing tempat, zaman, tradisi dan budaya yang berbeda. Dalam hal ini tampak bahwa syari’at baru menjadi berarti setelah dilalui melalui proses “tirakat”” atau “lelakon”.


Dalam melakukan hal tersebut, maka yang pertama kali harus diperhatikan adalah upaya melongok ke dalam diri sendiri, introspeksi. Dalam hal inilah diperlukan adanya laku untuk mengendalikan hawa nafsu. Tahapan utama untuk ini adalah khalwat, tahannuts, atau meditasi (menempuh laku heneng dan hening). Jika proses ini berhasil maka akan mengantarkan pelakunya untuk mendapatkan apa yang disebut sebagai “wahyu” (ilham, inspirasi spiritual dan sebagainya). Dari wahyu yang diperoleh, maka akan melahirkan berbagai pengetahuan baru dan perilaku-perilaku yang berasas pada keluhuran budi (‘amal/’amil al shalihat) sebagai buah ber-musyahadah (menyaksikan dan berkontak langsung dengan Allah, atau buah iman). Dengan demikian maka kita berjalan menuju kepada-Nya, kita menyatu dengan-Nya, dan kita telah membangun sikap hidup “manunggaling kawula Gusti”.


Banyak orang yang salah paham dengan konsep manunggal tersebut. Sering manunggal diartikan sebagai menyatunya badan fisik dengan Dzat Tuhan. Ini merupakan kesalahan yang fatal. Dzat Tuhan selalu meliputi makhluk-Nya. Sehingga dzat manusia tidak mungkin bisa dipisahkan dari Dzat Tuhan. Antara ikan dan air tidak bisa dipisahkan, terutama ikannya. Ikan selalu hidup di dalam air. Demikian pula manusia dengan Tuhan. Tuhan selalu bersama manusia di mana saja (QS 57: 3-4).


Manunggal adalah menyatunya sifat, asma’, dan af’al manusia dengan sifat, asma, dan af’al Allah, atau menyatunya kodrat dan iradat manusia dengan kodrat dan iradat Allah, dan semua itu menunjukkan arti dari makna posisi manusia sebagai khalifatullah. Untuk menjadi khalifatullah dibutuhkan pengetahuan langsung apa yang menjadi kehendak dan ketetapan-Nya, tanpa itu maka manusia hanya memper-Tuhankan dirinya sebagai budak hawa nafsu.


Agar mampu menjadi khalifatullah, dimana khalifatullah hanya diemban oleh al insan al kamil, maka kita harus benar-benar berdzikir, meditasi dan semedi. Menyatunya pikiran, perasaan, napas dan bacaan dzikirnya sendiri. Menggulung semua lubang tubuh dengan mengembalikan diri kepada Allah, menuju kondisi suwung (kosongnya diri dari selain Allah), uninong, aning, unang, dengan tanpa kehilangan kesadaran. Saat dzikir dengan ditopang oleh pernapasan yang benar, maka energi spiritual akan menebar ke seluruh tubuh, maka menjadi tenanglah hati.
Ala bidzkrillah tathmainna al qulub (ingat, hanya dengan dzikrullah-lah hati akan mencapai ketenangannya).

5 komentar:

TEACHERS' GUIDE - SULWANRI 'S BLOG mengatakan...

Jazakallahu khairan.Mohon ijin admin untuk mengambil semua manfaat dari pelajaran yang ada di di situs yang baik ini.

Unknown mengatakan...

Mohon izin ustadz untuk mempelajari dan mengamalkan. Da mohon doa dari ustadz agar dimudahkan hingga meresap kedalam hati yang terdalam. Terima kasih

Unknown mengatakan...

Dari ferdianto bekasi

Unknown mengatakan...

Pak admin bisa minta no hp nya
Mathur nuwun

Unknown mengatakan...

Pemahaman dasar agama dari ajaran syeh siti jenar yanf membuka hati yang gelap menuju cahaya illahi,amin