TUJUAN DAN KEGUNAAN ILMU HENING


Adapun pelaksanaan semedi seperti dituturkan di atas juga bisa diringkas. Yang penting kita selalu terus menerus dan tiada putus melakukan laku naik turunnya napas, dengan duduk, berjalan atau bekerja. Tidak boleh ketinggalan mengendalikan keluar masuknya napas yang disertai dengan pembacaan mantera “hu-ya” atau “Allah-hu” atau “hu-Allah”.

Kecuali itu wirid yang disebut
daiwan masih memiliki maksud yang lain lagi. Yaitu memiliki pengertian panjang tanpa ujung, atau langgeng. Adapun maksud penyebutan bahwa napas kita itu menjadi keberadaan hidup kita yang langgeng (abadi) yaitu dengan adanya napas (ambegan) kita. Adapun ambegan itu ternyata dikarenakan adanya angin (udara/oksigen) yang selalu keluar masuk tanpa henti. Bersamaan dengan proses perjalanan daran (dan ruh). Apabila keduanya berhenti dan tidak bekerja lagi, maka disebut dengan “mati”. Yaitu rusaknya wadag kembali menjadi barang baru lagi. Oleh karena itu sebaiknya perjalanan napas atau ambegan kita harus selalu keluar masuk tanpa henti. Harus dipanjang-panjangkan proses perjalanannya agar umur kita menjadi panjag dan bisa menjadi awet berada di dunia ini smapai tutug (selesai) pandangan kita kepada anak, cucu, buyut, canggah, wareng dan seterusnya.


Adapun uraian diatas menunjukkan bila pengetahuan
pasamaden itu ternyata lebih besar kegunaan dan manfaatnya, maka kemudian disebut sastrajendrayuningrat pangruwating diyu. Artinya, sastra -= tajamnya pengetahuan, jendra = dari uraian kata harja endra (harja = raharja, endra = ratu/dewa), yu = rahayu = sejahtera, ningrat = jagat = tempat = badan. Jadi, maksudnya adalah mustikanya pengetahuan yang kuasa jadi penyebab kesejahteraan, keselamatan, kesempurnaan, ketentraman dan sebagainya.

Adapun arti
pangruwating diyu = mengembalikan atau memulihkan diyu. Sedangkan diyu = danawa = raksasa = asura = buta, ini untuk perlambang keburukan, penyakit, kotoran, bahaya, kegelapan, kebodohan dan sesamanya. Jadi diyu itu sebagai kebalikan dari dewa yang memiliki makna simbolik: pandai, baik, sejahtera, selamat, dsb. Itu mengandung maksud yang dapat menyirnakan segala keburukan atau segala hal bahaya. Intinya, barang siapa yang selalu ajeg berdisiplin melakukan lelaku olah semedi, jika pada mulanya orang buruk kemudian sirna keburukannya, dan lalu berubah menjadi orang yang baik perilakunya. Orang sakit sirna penyakitnya menjadi sembuh waras, orang murka dan aniaya menjadi menerima, sabar dan berbelas kasih. Orang yang bohong atau curang menjadi dipercaya dan bersungguh-sungguh. Orang yang bodoh menjadi pintar, orang yang pandai menjadi pandai sekali, dan mengerti (benar dan pener, pikir dan nalar). Demikian juga orang yang semula menjadi orang sudra menjadi waisa, waisa menjadi ksatria, ksatria menjadi brahmana dan brahmana menjadi penjaga dunia yang disertai oleh Hyang Kuasa (Batara)

Mudahnya, semua jenis keburukan atau segala bentuk rekayasa (goda rencana), bentuk bahaya apapun, baik yang muncul karena keburukan hati pribadi, atau segala sesuatu jadi sirna. Hapus lebur oleh pangastuti hasil olah semedi, yaitu mengelola dan mengendalikan (mengheningkan) cipta mewujudkan cita (pencerahan) dalam aworing kawula-Gusti (menyatunya hamba-Tuhan). Demikian juga segala bahaya yang keluar dari keburukan dan perbuatan orang lain, seperti halnya hewan mau mengganggu tentu akan terkena akibatburuk. Burung yang terbang melebihi, tentu mati sirna bentuk badan wadag-nya. Demikian juga bagi sesama titah yang sengaja meremehkan atau meluhurkan kemenangannya dan sebagainya tentu tidak akan terjadi. Selagi masih mau berpandang-hadapan saja, sudah tentu badannya kemudian gemetaran. Ibarat gosong jadi abu. Semua itu akibat terkalahkan oleh besarnya kewibawaan yang selalu bersinar menggema daya kekuatan. Seperti terangnya bulan purnama tanggal setengah (akibat olah semedi yang dijalankan secara konsisten).

Tidak ada komentar: