Tampilkan postingan dengan label Ilmu Hening/Aji Pameling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Hening/Aji Pameling. Tampilkan semua postingan

TUJUAN DAN KEGUNAAN ILMU HENING


Adapun pelaksanaan semedi seperti dituturkan di atas juga bisa diringkas. Yang penting kita selalu terus menerus dan tiada putus melakukan laku naik turunnya napas, dengan duduk, berjalan atau bekerja. Tidak boleh ketinggalan mengendalikan keluar masuknya napas yang disertai dengan pembacaan mantera “hu-ya” atau “Allah-hu” atau “hu-Allah”.

Kecuali itu wirid yang disebut
daiwan masih memiliki maksud yang lain lagi. Yaitu memiliki pengertian panjang tanpa ujung, atau langgeng. Adapun maksud penyebutan bahwa napas kita itu menjadi keberadaan hidup kita yang langgeng (abadi) yaitu dengan adanya napas (ambegan) kita. Adapun ambegan itu ternyata dikarenakan adanya angin (udara/oksigen) yang selalu keluar masuk tanpa henti. Bersamaan dengan proses perjalanan daran (dan ruh). Apabila keduanya berhenti dan tidak bekerja lagi, maka disebut dengan “mati”. Yaitu rusaknya wadag kembali menjadi barang baru lagi. Oleh karena itu sebaiknya perjalanan napas atau ambegan kita harus selalu keluar masuk tanpa henti. Harus dipanjang-panjangkan proses perjalanannya agar umur kita menjadi panjag dan bisa menjadi awet berada di dunia ini smapai tutug (selesai) pandangan kita kepada anak, cucu, buyut, canggah, wareng dan seterusnya.

Ilmu Hening/Meditasi dan cara Pelaksanaannya


Uraian lebih lengkap untuk Meditasi, bisa dilihat di buku “Sufisme Syekh Siti Jenar, Kajian Kitab Serat dan Suluk Siti Jenar, Muhammad Sholikhin, Yogyakarta: Narasi, 2004, hlm 284-298 (buku pinjaman mbah hamsyong dan mbah gen13th).

Istilah semedi sama dengan sarasa, yaitu rasa tunggal, maligining rasa (berbaur berjalannya rasa), rasa jati, rasa ketika belum mengerti. Adapun matangnya perilaku atau pengolahan (makarti) rasa disebabkan dari pengolahan atau pengajaran, atau pengalaman-pengalaman yang diterima atau tersandang pada kehidupan keseharian. Olah rasa itulah yang disebut pikir, muncul akibat kekuatan pengelolaan, pengajaran atau pengalaman tadi. Pikir lalu memiliki anggapan yang baik dan jelek, kemudian memunculkan tata cara, penampilan dan sebagainya yang kemudian menjadi kebiasaan (pakulinan/adat).