Adapun pelaksanaan semedi seperti dituturkan di atas juga bisa diringkas. Yang penting kita selalu terus menerus dan tiada putus melakukan laku naik turunnya napas, dengan duduk, berjalan atau bekerja. Tidak boleh ketinggalan mengendalikan keluar masuknya napas yang disertai dengan pembacaan mantera “hu-ya” atau “Allah-hu” atau “hu-Allah”.
Kecuali itu wirid yang disebut daiwan masih memiliki maksud yang lain lagi. Yaitu memiliki pengertian panjang tanpa ujung, atau langgeng. Adapun maksud penyebutan bahwa napas kita itu menjadi keberadaan hidup kita yang langgeng (abadi) yaitu dengan adanya napas (ambegan) kita. Adapun ambegan itu ternyata dikarenakan adanya angin (udara/oksigen) yang selalu keluar masuk tanpa henti. Bersamaan dengan proses perjalanan daran (dan ruh). Apabila keduanya berhenti dan tidak bekerja lagi, maka disebut dengan “mati”. Yaitu rusaknya wadag kembali menjadi barang baru lagi. Oleh karena itu sebaiknya perjalanan napas atau ambegan kita harus selalu keluar masuk tanpa henti. Harus dipanjang-panjangkan proses perjalanannya agar umur kita menjadi panjag dan bisa menjadi awet berada di dunia ini smapai tutug (selesai) pandangan kita kepada anak, cucu, buyut, canggah, wareng dan seterusnya.