Tampilkan postingan dengan label Manunggaling Kawulo Gusti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manunggaling Kawulo Gusti. Tampilkan semua postingan

Manunggaling Kawula Gusti ( Al-Insan Al Illahiyyah)

Dalam pandangan sufisme, Tuhan merupakan esensi. Syekh Siti Jenar dan seluruh kaum sufi pada umumnya memiliki rumusan yang demikian. Hal itu memungkinkan “masuknya” Tuhan pada diri manusia: manunggal, hulul, fana’ atau apapun namanya. Karena nama atau sebutan sebenarnya bukan mengacu pada pengalaman yang diperoleh, tetapi lebih mengacu pada proses yang ditempuh. Sama halnya antara kunci dengan gemboknya. Bisa saja dikatakan gembok dimasuki kunci, atau kunci masuk ke gembok. Karena memang kadang kunci dulu yang dipegang baru gemboknya. Dan kadang juga gembok dulu dipegang baru meraih dan memasukkan kunci.

Pencapaian Ma’rifatullah dan Manunggaling Kawula Gusti


Syekh Siti Jenar menyatakan dalam Serat Syekh Siti Jenar Pupuh III Dandanggula, 242-44, “Hidup itu bersifat baru dan dilengkapi pancaindera. Pancaindera ini merupakan barang pinjaman yang jika sudah diminta oleh yang empunya akan menjadi tanah dan membusuk, hancur lebur bersifat najis. Oleh karena itu pancaindera tidak dapat dipakai sebagai pedoman hidup. Demikian pula budi, pikiran, angan-angan dan kesadaran berasal dari pancaindera. Tapi itu tetap tidak dapat dipakai sebagai pegangan hidup. Akal dapat menjadi gila, sedih , bingung, lupa tidur, dan seringkali tiak jujur. Akal itu pula yang siang malam mengajak dengki, bahkan merusak kebahagiaan orang lain. dengki dapat pula menuju perbuatan jahat dan menimbulkan kesombongan, untuk akhirnya jatuh dalam lembah kenistaan, sehingga menodai nama dan citranya. Kalau sudah sampai demikian jauhnya, baru orang akan menyesalkan perbuatannya.”